XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Jumat, 30 September 2011

EUPHORIA : Persiapan Drama Pengkajian Karakter Balik Layar

Quotes:
Giras: Menurutnya dengan berbicara akan menghambat proses datangnya inspirasi!


Storyline:
Empat orang yang terlibat dalam pertunjukan drama “Srikandi” turut mencari jati diri masing-masing. Harris adalah anak pengusaha kaya yang ditugaskan ayahnya untuk mengawasi jalannya produksi yang berkaitan dengan bujet. Giras adalah lulusan universitas yang terpaksa menerima pekerjaan dari pamannya sebagai storyboarder. Ara yang menerima peran utama bersama Vanya kerap mempertanyakan preferensi seksualnya. Valerie yang kembali ke Indonesia setelah 10 tahun belajar di Rusia harus berhadapan dengan keluarga dan rumah yang cukup membelenggunya.

Cast:
Maurits Fandoe sebagai Giras
Suryanata Hatta sebagai Harris
Ananda Moechtar sebagai Ara
Sefezy Fandini sebagai Vanya
Indri Sriwattana sebagai Valerie

Director:
Pandu Birantoro sebelumnya pernah menangani beberapa film pendek dan sebuah feature film berjudul Tiga Bersaudara yang sempat ditayangkan bergerilya di beberapa tempat.

Comment:
Skrip yang dikerjakan oleh duo Getar Jagatraya dan Randi Nizar ini terbilang unik dalam bercerita. Mengambil panggung sandiwara “Srikandi” sebagai kemasan lantas dibedah lagi untuk menceritakan masing-masing personil yang terlibat di dalamnya secara simultan. Bagaimana keterkaitan tokoh-tokoh tersebut satu dengan yang lainnya berujung pada satu kesimpulan yang menyentil sekaligus mendewasakan.
Dua tokoh favorit saya kali ini adalah Suryanata Hatta dan Ananda Moechtar yang bertolak belakang alias lemah dan kuat. Bagaimana karakter Harris terasa tertekan berada di bawah bayang-bayang ayahnya hingga pada akhirnya berhasil memutuskan untuk mengambil jalannya sendiri. Berbanding terbalik dengan karakter Ara yang serba bisa dalam berbagai bidang mesti berujung pada kebimbangan “identitas” dirinya sendiri yang tidak diinginkannya.
Sutradara Pandu menggunakan pendekatan film-film indie pada umumnya dengan penggarapan yang tidak baku dan gaya bertutur yang bebas. Tidak terkesan linier tetapi tetap mengacu pada satu garis lurus yang terus bergerak menyibak proses-proses metamorfosa para karakternya. Sayangnya editing nya tidak terlalu mulus karena banyak sekali pemotongan yang terkesan kasar, atau kinerja scoring/sound yang kerapkali tidak tepat menempatkannya sehingga agak mengacaukan mood film.
Film yang pertama kali diputar di Bratislava, Slovakia pada bulan Maret 2011 hingga beritanya dimuat di surat kabar terkemuka setempat, Daily Pravda ini tetap menawarkan ending yang bersahabat. Segala benang kusut yang tersaji dalam konteks ringan pada akhirnya dapat diluruskan kembali dengan usaha yang tidak terlalu sulit. Pertunjukan drama “Srikandi” yang menutup layar pun mengartikan banyak hal yang ambigu, akankah proyek ini akan dilanjutkan dengan versi lainnya?
Euphoria The Movie ini lebih tepat dikatakan proyek coba-coba yang bernafaskan kebebasan yang tidak mengikat. Banyak pesan tersirat yang tidak dijelaskan dengan gamblang lewat bahasa gambar yang terbilang stylish itu. Keragaman karakterisasi yang sudah dikupas lewat durasi yang kelewat panjang nyatanya tidak dapat tereksploitasi secara maksimal. Usaha filmmaker bolehlah diapresiasi walau belum mampu membangkitkan perasaan maksimal ataupun antusiasme berlebihan dalam diri penonton ketika menyaksikannya.

Durasi:
130 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 29 September 2011

THE UNBORN CHILD : Aborsi Ilegal Bangkitkan Ketakutan Bersalah


Storyline:
Tri adalah seorang wartawan yang selalu membawa kamera kemana-mana. Ia beristrikan Pim dengan satu orang putri bernama Yaimai yang belakangan memiliki “adik” yang tak terlihat. Ada lagi pasangan muda yang memutuskan pergi ke dukun aborsi untuk mengatasi kehamilan yang tidak direncanakan. Angka “2002″ yang digunakan sebagai judul adalah jumlah aborsi janin ilegal yang ditemukan di sebuah kuil di Bangkok sebagai negara ke-3 dengan kasus terbanyak di Asia.

Nice-to-know:
Berjudul asli The Unborn Child 2002 dirilis di Thailand pada tanggal 10 Maret 2011 yang lalu.

Cast:
Pitchanart Sakakorn sebagai Pim
Somchai Khemklad sebagai Tri
Arisara Tongborisuth

Director:
Poj Arnon paling dikenal namanya saat menggarap Bangkok Love Story (2007).

Comment:
Aborsi adalah perbuatan tercela sekaligus pelanggaran dosa terbesar di dalam dunia medis. Sayangnya kasus ini masih umum terjadi di negara manapun. Alasannya pun klise yaitu belum siap (untuk muda-mudi) atau tidak diinginkan (bagi orang dewasa). Tema serupa pernah diangkat di Indonesia lewat Hantu Aborsi (2008) dengan bintang Happy Salma, Okan Kornelius dan Bulan Ayu, hanya saja pendekatan yang digunakan sedikit berbeda.
Anda akan diajak untuk mengenal pasangan dewasa dengan putri kecil mereka yang bertingkah laku aneh, pasangan muda yang “bertindak” terlalu jauh serta pasangan yang dipersatukan oleh motif uang yaitu wanita pelaku aborsi ilegal dan pria pengkremasi janin. Keseluruhan karakter tersebut memiliki benang merah yang sama yaitu rasa bersalah dan ketakutan yang menghantui akibat perbuatan-perbuatan mereka. Tak lupa keterikatan satu sama lain juga turut menyatukan kepingan cerita.

Kekurangan yang paling mencolok adalah kebingungan sutradara Arnon untuk memposisikan filmnya sebagai drama edukasi atau horor supernatural. Itu sebabnya eksekusi cenderung tidak konsisten dimana konsep drama yang terlalu creepy bertubrukan dengan horor yang terkesan mellow. Elemen-elemen ketakutan yang berusaha dibangun malah diperburuk dengan penggunaan CGI yang terlampau jelas disana-sini, sebut saja tampilan janin/bayi yang palsu ataupun efek darah di kolam renang.
Faktor inkoherensi plot cerita juga menyebabkan aktor-aktrisnya bermain tidak maksimal kali ini. Mereka gagal menjalin koneksi dengan penonton sehingga rasa simpati yang diinginkan tidak dapat mengalir secara natural. Paling keterlaluan adalah tokoh anak Yaimai yang seakan berakting sendirian tanpa pengarahan orangtua samasekali. Tidak terlihat usaha Tri dan Pim untuk sekadar memberikan pengertian akan teman imajinatif putrinya yang misterius itu.

Beginilah sulitnya menyampaikan pesan moral dari kejadian nyata yang mengerikan ke dalam media film. Semua sudah terungkap dengan jelas, tinggal menyisakan ending yang biasanya hanya berupa konklusi ataupun penegasan maksud filmmaker. The Unborn Child pada akhirnya terasa sebagai proyek yang salah meskipun tidak demikian apabila ditelaah lebih jauh. Sayangnya ketidakpedulian penonton akan konten film setelah satu setengah jam menunggu mesti diberikan semacam perkuliahan mengenai insiden aborsi, and they could easily say: “Who cares?”

Durasi:
90 menit

Asian Box Office:
$392,234 till Apr 2011 in Thailand

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 28 September 2011

BADAI DI UJUNG NEGERI : Multi Konflik Sahabat Cinta Tugas Seorang Marinir

Quotes:
Piter: Kau ini tidak mengerti. Rupiah itu tidak ada artinya. Dollar Anissa, dollar!


Storyline:
Seorang marinir bernama Badai mendapat tugas di pos jaga perbatasan Indonesia dengan sebuah pulai di Laut Cinta Selatan. Ia bersahabat dengan Zein, nelayan setempat dan jatuh hati pada Anisa, gadis keturunan yang memegang teguh norma-norma setempat. Ketenangan seketika terusik saat penemuan beberapa mayat misterius terapung di laut. Badai dituntut masyarakat setempat untuk segera mengungkap kasus yang juga merenggut nyawa anak semata wayang Zein itu. Bukan hanya itu, Badai juga dipertemukan kembali dengan Joko, sesama perwira Angkatan Laut yang masih menyimpan salah paham dengannya. Siapa sesungguhnya otak dari kasus misterius tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Quanta Pictures dimana screeningnya diselenggarakan di Blitzmegaplex Grand Indonesia pada tanggal 28 September 2011.

Cast:
Arifin Putra sebagai Badai
Astrid Tiar sebagai Anissa
Yama Carlos sebagai Joko
Jojon sebagai Piter
Ida Leman sebagai Dr. Yana
Kukuh Adirizky sebagai Nugie

Director:
Merupakan feature film kedua bagi Agung Sentausa setelah Garasi (2006).

Comment:
Rasa penasaran dan optimisme tinggi muncul saat pertama kali saya mendengar proyek film ini dikerjakan oleh produser Pingkan Warouw sekaligus debut pertama dari rumah produksi Quanta Pictures. Apalagi genre drama aksi yang berfokus pada kiprah seorang marinir di tempat asing dapat dihitung dengan jari tangan. Lantas apakah hasil akhirnya yang mencakup semua aspek dalam film sudah sesuai dengan ekspektasi saya dan mungkin sebagian besar orang?
Penulis skrip Ari M Syarif terasa mengombang-ambingkan karakter Badai. Aspek masa lalu, masa sekarang dan masa depan yang dijalaninya sedikit banyak mempengaruhi karakter asli yang ingin ditonjolkan, dalam hal ini ketangguhan dan ketegaran seorang marinir. Oleh karena itu tak jarang Badai malah terlihat rapuh dan tidak konsisten dengan segala tindak tanduknya. Sebetulnya tidak menjadi masalah jika ingin menekankan sisi manusiawinya asal dilengkapi dengan penjelasan latar belakangnya.
Dengan karakterisasi demikian, Arifin Putra juga mau tidak mau turut terjebak dalam ketidakpastian. Kadang Badai terlihat dewasa tapi di sisi lain masih kurang matang dalam mengambil setiap keputusan. Korelasinya dengan percintaan, persahabatan dan tanggungjawab terhadap tugas utamanya juga blur sepanjang film berjalan. Patriotisme yang dituntut darinya seringkali kontradiktif dengan anggapan masyarakat awam yang masih agak primitif. Nah, ini yang setidaknya menjadi highlight tersendiri.

Jojon justru paling mencuri perhatian dari jajaran cast yang ada. Bagaimana imej komediannya bisa luntur dan membaur dalam karakter Piter yang culas. Sosok antagonis yang memang tidak akan memancing kebencian penonton tapi mampu menghadirkan konflik yang tajam. Astrid Tiar dan Yama Carlos belum terlihat menggali sisi emosional yang dibutuhkan untuk peran Anissa dan Joko, bisa jadi karena porsi yang diberikan pada mereka belum cukup maksimal.
Satu nilai plus lagi, sutradara Agung berhasil menghadirkan sinematografi Tanjung Pinang alias Kepulauan Riau dengan indah. Pesisir pantai, laut dan perkampungan nelayan dapat disetel sebagai panggung sesuai kebutuhan cerita. Sayangnya adegan aksi yang diharapkan mampu memacu adrenalin malah cenderung datar. Bahkan adegan tembak-tembakan di atas kapal pada bagian pamungkas terkes4an menutupi detilnya. Tak mau menonjolkan kesadisan kasat mata atau takut terlihat palsu?
Badai Di Ujung Negeri bukanlah masuk kategori film buruk tetapi terbilang gagal memaksimalkan potensi yang sebenarnya sudah ada. Gaya penceritaan yang mundur maju dengan tempo lambat bisa jadi terasa membosankan. Namun kelemahan utamanya yaitu tidak cukup kuat menjalin keterikatan emosional dengan penonton untuk benar-benar tergugah dengan perjalanan konflik yang mengatasnamakan heroisme selama satu setengah jam durasinya.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 27 September 2011

COLOMBIANA : Balas Dendam Si Anggrek Pembunuh

Tagline:
Revenge is beautiful.


Storyline:
Cataleya di usia kanak-kanaknya harus menyaksikan kedua orangtuanya dibunuh oleh mafia berkuasa, Don Luis. Susah payah lolos dari incaran anak buahnya, Cataleya menghampiri pamannya, Emilio dan minta dilatih menjadi seorang pembunuh. 15 tahun kemudian, Cataleya tumbuh menjadi wanita cantik nan berbahaya yang selalu menuntaskan tugas-tugasnya dengan cekatan. Target demi target mengarahkannya pada Don Luis, nama yang selalu ada di dalam kepalanya. Akankah dendam nyawa tersebut dapat terbayar?

Nice-to-know:
Alunan musik yang terdengar saat adegan pembuka di rumah Don Luis adalah “Ave Maria".

Cast:
Memulai karir layar lebarnya dalam Center Stage (2000), Zoe Saldana sebagai Cataleya / Valerie / Jen
Jordi Mollà sebagai Marco
Lennie James sebagai Ross
Michael Vartan sebagai Danny Delanay
Cliff Curtis sebagai Emilio Restrepo
Beto Benites sebagai Don Luis

Director:
Olivier Megaton terakhir menangani Transporter 3 (2008).

Comment:
Berapa banyak film action yang mengedepankan karakter wanita? Jika dibandingkan dengan pria mungkin 1 banding 10. Namun jika merunut ke belakang, rasanya sudah cukup banyak judul yang bisa disebutkan. Dalam satu dekade terakhir, mungkin anda dapat menyebutkan nama Angelina Jolie sebagai salah satu aktris yang rajin dihampiri peran tersebut. Bagaimana dengan Zoe Saldana, aktris Afro Amerika eksotis yang semakin menancapkan kukunya di Hollywood ini?
Saldana menjawab tantangan tersebut dengan gemilang. Peran Cataleya dimainkannya dengan lugas, tangguh, seksi sekaligus berbahaya. Gerakan femininnya terkadang bisa berubah menjadi singa betina yang lapar sambil menyembunyikan sisi emosionalnya dalam-dalam. Sayangnya tak jarang karakter Cataleya terkesan terlalu superior dan mencerminkan apa yang biasa dilakukan jagoan pria. Bingung melihatnya bisa bergerak ataupun berpindah posisi dengan begitu cepat dalam sekejap mata?
Selayaknya screenplay karya Luc Besson (yang kali ini bertandem dengan Robert Mark Kamen) lainnya, film ini memang menekankan pada aksi non stopnya. Prolog film selama 25 menit menceritakan kisah Cataleya kecil dalam nuansa Amerika Latin yang teramat kental dan bagian ini menyenangkan. Selepas itu, anda diajak untuk tidak berkedip menyaksikan kiprah Cataleya dewasa menghabisi musuh-musuhnya dengan begitu stylish hingga akhir.

Karakter lain di luar Cataleya tergolong dangkal eksplorasinya. Sang paman, Emilio tidak banyak diceritakan mendampingi Cataleya ataupun memberinya tugas. Sang polisi, Ross juga tidak diperlihatkan tekad kuatnya untuk membekuk Cataleya. Sang kekasih, Danny rasanya dapat disebut sebagai “teman tidur” belaka daripada berbagi cinta? Hmmm. Sang bandit, Don Luis malah disimpan hingga penghujung cerita layaknya raja terakhir dalam game arcade. Padahal keempatnya jelas merupakan tokoh-tokoh kunci yang bisa melengkapi perjalanan hidup seorang Cataleya.
Sutradara Megaton juga mengulangi apa yang dilakukannya dengan Transporter 3 yaitu penceritaan linier dengan tempo cepat, menyisakan sedikit waktu bagi penonton untuk berpikir tentang skripnya yang tidak maksimal. Colombiana memang tak lebih dari film “easy in the eye” yang asyik dinikmati sambil mengunyah popcorn tetapi saya tetap antusias mengikuti setiap menitnya. Saldana lah faktor yang menjadikan semua kekurangan itu termaafkan dan simpati dari anda patut dilayangkan bagi si anggrek maut dari Colombia kali ini.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$33,377,523 till mid Sep 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 26 September 2011

VANISHING ON 7TH STREET : Ancaman Mematikan Kegelapan Misterius

Quotes:
Rosemary: We can wait until morning.
Luke: Are you sure there's one coming?


Storyline:
Ketika pemadaman listrik menghantam Detroit dalam kegelapan total, sebagian manusia menemukan dirinya harus berjuang sendirian untuk bertahan hidup. Sebuah kekuatan hitam misterius telah merenggut nyaris seluruh populasi kota dan hanya menyisakan jejak pakaian ataupun kendaraan yang terbengkalai. Luke, penyiar televisi yang baru kembali dari tugasnya harus bertandem dengan Rosemary dan James untuk menjaga cahaya yang tersisa agar tetap hidup.

Nice-to-know:

Diproduksi secara keroyokan oleh Herrick Entertainment,Plum Pictures, Circle of Confusion, Forest Park Pictures, Mandalay Vision dengan bujet kurang lebih 10 juta dollar.

Cast:
Terakhir terlihat dalam Takers yang dirilis dalam tahun yang sama, Hayden Christensen bermain sebagai Luke
Pernah dinominasikan Aktor Pendukung Terbaik dalam Golden Globe lewat To Wong Foo Thanks for Everything, Julie Newmar (1995), John Leguizamo berperan sebagai Paul
Thandie Newton sebagai Rosemary
Jacob Latimore sebagai James
Taylor Groothuis sebagai Briana

Director:
Brad Anderson pernah menangani Christian Bale dalam The Machinist (2004).

Comment:
Film kecil ini nyatanya masih mampu menarik nama-nama tenar seperti Christensen, Leguizamo dan Newton untuk bermain di dalamnya. Meskipun pada akhirnya langsung rilis dalam format video di Amerika sana, Indonesia sendiri menayangkannya dalam format layar lebar. Sayang momentumnya salah karena harus berhadapan dengan film-film musim panas yang terlambat masuk sehingga dalam hitungan hari langsung tergusur dari bioskop-bioskop. Andai tayang paska Lebaran dimana sepi film-film asing, mungkin pihak 21 bisa sedikit lebih optimis.
Entah apa yang ingin disampaikan oleh penulis skrip Anthony Jaswinski kali ini. Saya cuma dapat menangkap dua hal yang paling mungkin yaitu teror hantu kegelapan dan balada manusia bertahan hidup. Malangnya, sang hantu tidak benar-benar menciptakan ketakutan dan kaum manusia pun tidak betul-betul memperlihatkan sisi emosionalnya. Alhasil film ini seperti kehilangan identitasnya, sesuatu yang sangat krusial sebagai nilai jual.
Terlalu banyak pertanyaan yang tidak terjawab selama satu setengah jam seperti halnya, “Mengapa orang-orang ini tidak terambil oleh kegelapan?”, “Kenapa siang hari terasa begitu singkat?”, “Mengapa kekuatan jahat ini hanya bisa menggunakan media kegelapan?”, “Bagaimana cahaya dapat mengusir kegelapan dengan begitu kontras?”, “Mengapa tidak satupun peralatan elektronik di dunia modern ini berfungsi dengan normal?”.
Sutradara Anderson tidak membuatnya lebih baik. Konsep yang demikian miskin tidak didukung oleh editing dan sinematografi yang kreatif. Semuanya serba flat. Sama halnya dengan kinerja Leguizamo, Christensen dan Newton yang tampak kebingungan satu sama lain dengan dialog yang minim dan tidak inspiratif sama sekali. Mudah-mudahan alasan mereka menerima proyek ini bukan sekadar ingin eksis daripada berdiam diri dalam kebintangan yang mulai meredup.
Cukup mengherankan Vanishing On 7th Street dapat melewati screening test bagaimanapun prosesnya berjalan. Jika kreator/filmmakernya diibaratkan guru yang meninggalkan kelas setelah menulis soal-soal pertanyaan di papan tulis dengan tujuan memberi waktu bagi murid-muridnya untuk menjawab semua itu. Yang terjadi kemudian adalah guru yang tidak pernah kembali ke kelas dan murid-murid yang telanjur meninggalkan kelas karena kebingungan. Siapa yang akan menjawab soal-soal itu?

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$22,197 till Mar 2011

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 24 September 2011

FINAL DESTINATION 5 : Keselamatan Jembatan Runtuh Mengintai Maut

Tagline:
Death has never been closer.


Storyline:
Perusahaan Paper Presage mengadakan perjalanan team building yang diikuti oleh Sam, Molly, Peter, Candice, Olivia, Isaac, Nathan, Dennis. Saat melewati sebuah jembatan yang tengah direkonstruksi, Sam mendapat penglihatan bahwa kecelakaan maut akan segera terjadi. Ia pun ngotot ke luar dari bis dengan diikuti orang-orang tersebut. Ternyata apa yang ditakutkan benar adanya. Kedelapan orang yang selamat itu pun sekali lagi memancing maut untuk betul-betul menjalankan takdirnya!

Nice-to-know:
Merupakan film kedua dari franchise Final Destination yang disyut dalam format 3D sekaligus yang pertama rilis dalam format IMAX.

Cast:
Memulai karirnya lewat Election (2009), Nicholas D'Agosto berperan sebagai Sam
Cukup mencuri perhatian dalam Frozen (2010), Emma Bell bermain sebagai Molly Harper
Miles Fisher sebagai Peter Friedkin
Ellen Wroe sebagai Candice Hooper
Jacqueline MacInnes Wood sebagai Olivia Castle
Tony Todd sebagai William Bludworth

Director:
Merupakan feature film pertama bagi Steven Quale yang sebelumnya hanya menangani film pendek, dokumenter dan film televisi.

Comment:
Franchise Final Destination adalah satu-satunya film yang sukses membuat saya merasa ngeri dibandingkan judul-judul thriller/horor lainnya. Tidak pernah ada satupun film yang membuat saya menutup mata saat menyaksikannya, bisa jadi karena faktor pengalaman kecelakaan itu tidak (akan) pernah menyenangkan untuk ditonton atas dasar apapun juga. Dibutuhkan 11 tahun untuk mengakomodir 5 episodenya dan FD tak dinyana telah tumbuh dewasa bersama kita semua.

Meskipun sempat pesimis saat mengetahui Craig Perry dan Warren Zide akan meneruskan installment ini dikarenakan episode 3 dan 4 sendiri sudah kehilangan giginya akibat tidak adanya plot cerita. Beruntung Eric Heisserer dan Jeffrey Reddick memperbaiki karakterisasi tokoh-tokoh yang terangkum disini sehingga penonton diajak peduli akan nasib Sam dan kawan-kawan dalam menghindari kematian. Formula yang tidak jauh berbeda kembali disuguhkan, hanya saja dengan kekelaman dan kejutan khusus yang akan membuat anda tetap antusias sepanjang satu setengah jam lamanya.
Bagian pembuka kali ini terjadi di sebuah jembatan yang runtuh karena kesalahan konstruksi. Kinerja grafis spesial efek yang sangat mengagumkan dalam balutan 3D selama 4 menit 44 detik, menghasilkan pekik kaget disusul jeritan panjang dari seantero gedung bioskop saat maut menjalankan tugasnya. Definitely one of the best (or scariest) opening sequence I’ve ever seen! Efek tiga dimensi tidak berhenti sampai disitu karena kedalaman gambar berhasil dipertahankan secara konsisten hingga akhir film.

Penampilan para bintangnya kali ini cukup di atas rata-rata meski tidak luar biasa, terbukti keterikatan semua tokohnya dapat anda rasakan. D’Agosto cukup simpatik sebagai Sam yang mampu melihat premonition, sama halnya dengan Alex Browning (FD) dan Nick O’Bannon (FD 4). Sedangkan Fisher lumayan mengganggu sebagai Peter yang paranoid dan bossy. Sisanya merupakan tipikal tokoh-tokoh dalam film sejenis, temukan saja seorang pemuda kulit hitam, gadis seksi atletis, pria Yahudi playboy ataupun atasan perusahaan yang brengsek. Jangan lupakan Tony Todd yang kembali muncul sebagai petugas forensik misterius.
Sutradara Quale melakukan debutnya dengan mengesankan. Pengalaman bekerjasama dengan James Cameron dalam beberapa film besar turut membantunya mengeksekusi dengan ciamik. Yang patut diacungi jempol adalah kemampuannya memainkan insting penonton yang terus saja menerka-nerka kejadian mematikan apa yang akan menimpa tokohnya satu persatu dari satu adegan ke adegan lain. Namun Quale tidak ingin semua terkesan predictable sehingga tak jarang ia sukses menipu anda berkali-kali.

Tak diragukan lagi, Final Destination 5 adalah episode terbaik dari keseluruhan franchise. Kejutan yang sama memang ditawarkan Final Destination (2000) tetapi ketiadaan aspek 3D membuatnya sedikit berada di bawah. Lihat bagaimana kematian mengenaskan dapat menimbulkan rasa terkejut dengan sentuhan kejenakaan secara bersamaan. Twist ending yang merangkum keseluruhan perjalanan maut pun menutupnya dengan sempurna. Jadilah saksi hidup Final Destination 1-5, niscaya pandangan anda mengenai kematian tidak akan pernah sama lagi.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$42,380,557 till Sep 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 23 September 2011

X-MEN : FIRST CLASS Perseteruan Awal Mutan Dua Kubu

Quotes:
Professor Charles Xavier: Listen to me very carefully, my friend: Killing will not bring you peace.


Storyline:
Tahun 1944 di Polandia, Erik Lehnsherr kecil mengeluarkan kekuatan magnetiknya saat ibunya dikirim ke kamp. Dr. Sebastian Shaw yang mengetahui hal itu membawa Erik dan mengajarkannya sisi emosi setelah membunuh ibunya. Sementara itu Charles Xavier yang berasal dari keluarga kaya bertemu Raven dan mengajaknya ke kastil miliknya. Tahun 1962, agen CIA bernama Moira MacTaggert menemukan keberadaan mutan-mutan berkemampuan super di atas manusia biasa dan berniat mempekerjakannya pada Pemerintah USA. Tidak seorang pun mengetahui rencana jahat Shaw yang ingin memulai perang nuklir untuk menghancurkan dunia.

Nice-to-know:
Bryan Singer awalnya ditunjuk sebagai sutradara film ini tetapi mundur karena proyek Jack the Giant Killer hingga digantikan Matthew Vaughn. Meski demikian, Singer tetap menjabat sebagai produser disini.

Cast:
Terakhir mendukung The Conspirator (2010), James McAvoy bermain sebagai Charles Xavier
Aktor Jerman yang mengawali akting lewat serial ternama Band of Brothers di tahun 2001, Michael Fassbender berperan sebagai Erik Lehnsherr / Magneto
Kevin Bacon sebagai Sebastian Shaw
Rose Byrne sebagai Moira MacTaggert
Jennifer Lawrence sebagai Raven / Mystique
Jason Flemyng sebagai Azazel
Nicholas Hoult sebagai Hank McCoy / Beast

Director:
Merupakan film keempat Matthew Vaughn yang terakhir menuai pujian lewat Kick-Ass (2010).

Comment:
Sebagian besar dari moviegoers di seluruh dunia tampaknya menggemari franchise X-Men yang dimulai sejak satu dekade yang lalu. Ini adalah installment kelimanya sekaligus prekuel yang mengambil waktu puluhan tahun sebelum X-Men (2000). Oleh karena itu ada baiknya jika anda merefresh ingatan anda sejenak sebelum menyaksikan film yang satu ini, setidaknya mengingat beberapa peran kunci agar lebih “nyambung” dengan pengenalan tokoh-tokohnya.
Skrip yang dikerjakan secara keroyokan oleh Ashley Miller, Zack Stentz, Jane Goldman dan Matthew Vaughn berdasarkan cerita rekaan Bryan Singer dan Sheldon Turner ini berhasil membangun jembatan yang kokoh dengan trilogy sebelumnya. Bagaimana dua kubu mutan yang saling berseberangan itu terbentuk pada awalnya. Tidak diceritakan secara runut begitu saja tetapi penuh dengan intrik, twist and turns yang membuat kita terus menerka-nerka, siapa memihak siapa, baik ataupun jahat, dsb.

Fassbender menunjukkan akting paling memukau sebagai Erik, agresif dan ambisius. Sama halnya dengan McAvoy di sisi kontradiktifnya sebagai Charles, naïf dan terlalu baik. Chemistry yang tercipta di antara keduanya terkesan kuat, beranjak dewasa bersama-sama dengan satu visi sampai akhirnya mulai mengalami pergeseran seiring merebaknya konflik-konflik yang berhubungan dengan eksistensi manusia pada umumnya dan mutan pada khususnya.
Di luar keduanya masih ada Bacon yang juga bermain memikat di saat kebintangannya mulai meredup. Belum lagi Byrne dan Lawrence yang mewakili karakter wanita masing-masing Moira dan Raven yang mengalami dilema tersendiri dalam menentukan sikap. Keseluruhan tokoh dalam film mendapat perhatian yang cukup terlepas dari besar kecilnya porsi yang ditawarkan, penonton pun dengan mudah dapat mengidentifikasi kekuatan super yang dimiliki mereka semua.

Sutradara Vaughn juga menyuguhkan berbagai sekuens aksi seru yang memanjakan mata dengan sinematografi tahun 60an yang cermat. Permainan spesial efek juga sesuai kapasitas teknologi pada masa itu, tidak berlebihan layaknya film superhero lainnya. Durasi yang panjang menjadi tidak terlalu terasa dengan komposisi musik dari Henry Jackman yang membangun atau keindahan tata kostum sekaligus departemen make-upnya.
Kekurangannya mungkin ada pada ending yang antiklimaks karena anda semua yang sudah menonton X-Men trilogy tentu sudah bisa menebaknya. Terlepas dari fakta tersebut, X-Men : First Class tergolong memuaskan para pecintanya dengan segala kelebihan-kelebihan yang dimiliki sebuah film unggulan musim panas. Tidak ada asap jika tiada api, demikian pula segala sesuatu yang terjadi di muka bumi, setiap pertentangan hitam dan putih akan selalu memiliki cikal bakalnya. Inilah saatnya anda menjadi saksi para mutan tersebut beraksi!

Durasi:
130 menit

U.S. Box Office:
$146,405,371 till Sep 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 22 September 2011

THE BANG BANG CLUB : Konflik Internal Fotografer Berani Mati

Quotes:
Kevin Carter: They're right. All those people who say it's our job to just sit and watch people die. They're right.


Storyline:
Didasarkan pada kejadian nyata sewaktu hari-hari terakhir apartheid di Afrika Selatan. Greg berangkat sendirian untuk kemudian bergabung dengan tiga fotografer lainnya yang sudah lebih dulu disana yakni Kevin, Ken dan João. Hasil jepretan mereka diseleksi oleh editor cantik, Robin untuk kemudian dibayar tinggi setelah dimuat dalam majalah. Greg dan Robin menjalin hubungan istimewa hingga menjadi saksi pergeseran makna hidup yang dialami empat fotografer tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi secara keroyokan oleh Foundry Films, Harold Greenberg Fund, Instinctive Film dan Out of Africa Entertainment

Cast:
Terakhir bermain dalam Franklyn dan Stop-Loss di tahun 2008, Ryan Phillippe berperan sebagai Greg Marinovich
Karirnya meningkat paska Watchmen (2009), Malin Akerman kebagian tokoh Robin Comley
Taylor Kitsch sebagai Kevin Carter
Frank Rautenbach sebagai Ken Oosterbroek
Neels Van Jaarsveld sebagai João Silva

Director:
Merupakan feature film debut bagi Steven Silver yang asli Afrika Selatan ini.

Comment:
Film yang premierenya dilangsungkan di Toronto International Film Festival pada tanggal 15 September 2010 yang lalu ini hanya rilis terbatas di beberapa negara dengan judul berbeda-beda. Di Indonesia masuk lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex menggunakan judul yang sama dengan Yunani. Sedangkan di Brazil memakai Repórteres de Guerra, Perancis dengan titel Shots of War serta The Hidden War di Swedia.
Film yang diangkat dari novel karangan Greg Marinovich dan João Silva ini diterjemahkan langsung oleh sutradara Steven Silver dalam bentuk screenplay. Bukan pekerjaan yang mudah untuk ukuran buku sulit seperti itu tetapi Silver sendiri berkebangsaan Afrika Selatan sehingga sedikit banyak mengetahui sejarah hitam yang terjadi disana. Belum lagi fakta bahwa ia sudah pernah menggarap beberapa dokumenter televisi sebelumnya yang rata-rata bertemakan peperangan dan kemanusiaan.
Kuartet Phillippe, Kitsch, Rautenbach, Van Jaarsveld bermain kompak sebagai empat orang fotografer berani mati. Menarik melihat kinerja kamera yang secara dinamis bergerak mengekspos mereka dengan penekanan cara pandang yang berbeda-beda satu sama lain. Porsi terbesar dipercayakan pada Phillippe dan Kitsch yang bertalenta lebih dalam pendekatan fotonya. Lihat bagaimana permainan nasib mereka silih berganti mengikuti roda kehidupan terutama dalam Pulitzer Prize dan segala “efek samping”nya.
Beberapa aktor Afro-Amerika yang mendukung film ini juga tampil mengesankan untuk menegaskan sisi emosional yang nyata sesuai apa yang dialami warga setempat pada waktu itu. Kehadiran sang editor majalah, Akerman sebagai front lady juga memberikan keseimbangan yang tepat bagi tokoh Greg yang berangkat dari nol hingga karakternya dapat terbentuk sedemikian rupa. Narasi tertulis sebelum credit title bergulir dijamin akan menggelitik akal sehat anda akan resiko profesi yang begitu tinggi.
The Bang Bang Club menghadirkan banyak gambar statik maupun bergerak yang cukup mengenaskan untuk dicerna dengan mata telanjang, terlebih menit ke-77 dst yang menggetarkan jiwa dan hati nurani siapapun yang menyaksikannya. Conflict interest yang disajikan dengan cukup sederhana dari sudut pandang yang tidak biasa itu pada akhirnya akan meninggalkan banyak pertanyaan mengenai moral dan etik di dalam benak penonton terutama bagi mereka yang menggemari fotografi.

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 21 September 2011

MATI MUDA DI PELUKAN JANDA : Perebutan Jejaka Dua Janda Metropolitan

Quotes:
Dengar Mira, Facebook dan Twitter itu harammm!
Mira: Haraman muka loe!


Storyline:
Sejak kecil ditinggal kedua orangtuanya yang tewas karena hanyut, Rahmat diadopsi oleh Mbak Bunga alias Mas Bambang pemilik salon “Mawar” yang hanya mampu menyekolahkannya sampai lulus SMA. Meski demikian, Rahmat tetaplah pribadi yang cerdas, alim dan berbakti bersama banci namun Rahmat tumbuh menjadi lelaki tulen yang pintar, baik, soleh dan berbakti. Sebagai petugas satpol PP, Rahmat cepat mendapat simpati dari atasannya yang kemudian dibenci oleh Bento yang iri hati padanya. Dalam urusan asmara pun, Rahmat menaruh hati pada tetangganya Ratih, janda muda yang berprofesi sebagai tukang jahit. Namun perjalanan cinta mereka tidak mulus karena diganggu Mpok Sari, pemilik warteg Sari Nikmat yang juga mengaku janda dan menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadinya itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sentra Mega Kreasi dimana screeningnya diselenggarakan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 20 September 2011.

Cast:
Ihsan Tarore sebagai Rahmat
Ayu Pratiwi sebagai Ratih
Shinta Bachir sebagai Mpok Sari
Julia Robex sebagai Bunga
Vijey Sadiansyah sebagai Bento

Director:
Merupakan film kedua di tahun 2011 bagi Helfi Kardit setelah Arwah Goyang Karawang yang cukup laris itu.

Comment:
Melihat judulnya yang terkesan ekstrim dan murahan itu rasanya segmentasi film ini memang ditujukan bagi penonton kelas bawah. Asumsi ini bukannya tanpa alasan karena terbukti di bioskop papan atas ibukota, sebut saja Plaza Senayan XXI hanya memutar film ini satu hari saja! Sedangkan di bioskop-bioskop lain pun, nasibnya terseok-seok mengumpulkan jumlah penonton yang bisa dihitung dengan jari. Cukup mengenaskan!
Skenario yang ditulis oleh duet Hilman Mutasi dan Team Bintang Timur ini tergolong dangkal dan terlalu apa adanya. Tidak ada proses yang cukup kuat untuk bisa membuat penonton terkoneksi dengan nasib para tokohnya. Rahmat yang digambarkan sopan dan baik hati tidak diceritakan langkah pendewasaannya sebagai anak adopsi seorang banci salon kesepian. Ratih yang ditinggal menjanda juga tidak dikisahkan menanggung kepedihan karena kegagalan rumah tangganya. Sari malah agak dipaksakan sebagai antagonis walaupun sifat obsesifnya masih terbilang tanggung, lewat satu dua kejadian busuk yang dilakukannya, ia langsung menjelma menjadi wanita jahat.
Dengan karakterisasi yang demikian miskin, tentunya sulit mengharapkan Ihsan, Ayu, Shinta, Julia ataupun Vijey mampu mengerahkan usaha luar biasa untuk mengangkat film ini. Ibarat modal pas-pasan, akhirnya toh cekak juga. Maaf tidak bermaksud mendiskreditkan nama-nama tersebut di atas tetapi saya benar-benar tidak habis pikir dengan kontribusi mereka yang cuma keluar masuk scenes begitu saja. Kondisi lebih parah menimpa para aktor-aktris pendukungnya yangyang entah bagaimana nasibnya di akhir film. Bad directing!
Sutradara Helfi tampaknya tidak berusaha membuat sesuatu yang “alhamdulillah banget” bisa dikenang oleh penonton. Setting lokasi yang identik dengan masyarakat menengah ke bawah seperti warteg, rumah sederhana, gang sempit dll boleh-boleh saja menjadi panggung tersendiri tapi bukan berarti gambar-gambar yang disuguhkan bisa seadanya seperti itu. Sangat tidak menarik! Tidak perlu saya sebutkan referensi judul-judul lain yang lebih berhasil dalam hal ini, bukan?
Mati Muda Di Pelukan Janda memang masuk kategori film non sampah tapi kualitasnya lebih jauh dari buruk. Salahkan screenplay yang demikian dangkal dan terlalu bermain aman dalam upayanya untuk menghibur. Tidak heran jika penonton akan segera melupakan konten film ini sepersekian detik selepas beranjak dari bangku bioskop. Termasuk saya yang segera mengosongkan isi kepala dari lantunan suara band D’Cokiel yang sama mengganggunya di sepanjang film itu. Janda mudaaa, bisa bikin gue gila…

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 20 September 2011

KERANDA KUNTILANAK : Seputar Gadis Hilang Kost Berhantu

Quotes:
DJ: Kalo tuh setan keren, dia udah jadi pemain sinetron!


Storyline:
Kost Abby dan Ikke yang semula tentram dan damai menjadi sarang teror kuntilanak apalagi salah satu tetangga mereka Lina menghilang secara misterius setelah menunggak biaya kost 2 bulan. Cody, kekasih Ikke, Stef, pacar Abby serta sahabat-sahabat mereka, DJ dan Jereng yang mampir kesana juga menjadi sasaran. Hingga pada suatu hari, adik Abby yang bernama Tasya datang kesana dan menyarankan agar mereka menenangkan diri di villa milik kawannya. Akankah semua misteri tersebut terjawab pada akhirnya? Siapa si kuntilanak berperut buncit itu sesungguhnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Film dimana screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 19 September 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai DJ
Fiona Fachry sebagai Ikke
Tifany Jane sebagai Abby
Anastasya Octavian sebagai Tasya
Yessa Lona sebagai Lina
Indra Brotolaras sebagai Cody
Munazat Raditya sebagai Jereng
Stevan William sebagai Stef

Director:
Merupakan film ke-3 di tahun 2011 bagi Koya Pagayo setelah terakhir Pelet Kuntilanak.

Comment:
Keranda. Apakah seorang Koya Pagayo mengetahui makna kata itu? Tentu saja! Terbukti salah satu scene dalam film ini memperlihatkan benda tersebut sekilas meskipun sepersekian detik saja. Namun sudah cukup untuk membangun versi ceritanya sendiri selama kurang dari satu setengah jam. Seperti biasa campuran genre horor dan komedi yang dipilihnya kalau tidak mau dibilang ikon menyeramkan yang dibuat jenaka kemunculannya. Kontras memang.
Penulis skenario Aldy KS seperti yang lain-lain tampaknya manut saja buah tangannya itu diobrak-abrik Koya sesuka hati. Dibaca sekali, selayang pandang, lantas dimasukkan ke dalam benaknya untuk kemudian dikonstruksikan sesuai templatenya yang tersohor itu. Dimulai dari serentetan remaja putra-putri dengan kehidupan sehari-harinya, di kampus, di kost bergaya rumah mewah dan diakhiri di sebuah hutan berpohon tinggi dengan suasana malam hari yang berkabut. Familiar bukan?
Zaky jelas pemain kunci dalam film ini. Lebih dari dua pertiga film memperlihatkannya sebagai one man show sekaligus berbagi layar dengan Munazat, Indra, Stevan, Tiffany, Fiona, Anastasya termasuk si kuntilanak itu sendiri! Harus diakui 40 menit pertama, Zaky menuntaskan tugasnya dengan baik karena saya samasekali tidak terlalu terganggu dengan humornya. Namun selepas itu, tokoh DJ seakan buyar begitu saja yang bisa jadi disebabkan oleh proses editing random yang dilakukan Koya.
Jika anda cermati kostum yang dikenakan Zaky hanya 4 atau 5 outfit saja, apakah berarti syuting acak dalam waktu maksimal 5-6 hari sebelum memasuki proses editing? Entahlah, ini hanya tebakan liar saya saja seteiah membaca interview detail yang dilakukan Adrian Jonathan terhadap Nayato beberapa waktu lalu. Tidak sulit baginya untuk berbuat hal demikian karena kendali memang akan selalu ada di tangannya.
Dengan mengandalkan wajah-wajah Indo (baca: bule) yang setidaknya terlihat cool, Keranda Kuntilanak dengan kata lain: same storyboard different casts project! Apabila ia beranggapan film semacam itu masih dapat dijual, saya selaku penonton setia film nasional di bioskop justru merasakan dari waktu ke waktu jumlah penontonnya terus berkurang. Seperti segerombolan anak sekolah yang menonton bersama saya di Metropole XXI salah satunya berujar, “Udah ah. Gua gak mau nonton film-film Nayato lagi. Gak jelas!” Mudah-mudahan beliau membaca pernyataan ini. Dari hati kecil yang paling dalam, saya beranggapan judul Kuntilanak Bunting akan jauh lebih sesuai untuk yang satu ini.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 19 September 2011

CONAN THE BARBARIAN : Sedikit Plus Banyak Minus Pahlawan Dark Ages

Quotes:
Conan: You have a name?
Tamara: Tamara Amalia Jorvi-Karashan. And yours?
Conan: Conan.
Tamara: Conan... that's it?
Conan: How many names do I need?


Storyline:
Kaum Cimmerian yang dipimpin oleh Corin berhasil menghancurkan kelompok penyihir Acheron. Bertahun-tahun kemudian dalam peperangan dengan rivalnya, Corin kehilangan istrinya yang terluka walau sempat melahirkan bayi laki-laki yang kelak diberi nama Conan. Tak terasa, Conan tumbuh menjadi remaja pria yang tegar sebelum menjelma menjadi pendekar tangguh. Balas dendam pun dicanangkannya terhadap Khalar Zym yang telah merenggut nyawa ayahnya itu. Dalam perjalanannya melintasi Hyboria, Conan berjumpa Tamara dan jatuh hati padanya. Tamara sendiri disinyalir keturunan terakhir yang dicari oleh Khalar Zym dan putrinya Marique untuk membangkitkan arwah Maliva demi menguasai dunia. Berhasilkah Conan menuntaskan misinya?

Nice-to-know:
Kellan Lutz dan Jared Padalecki sempat dipertimbangkan untuk peran Conan sebelum diputuskan nama anyar Jason Momoa.

Cast:
Angkat nama lewat serial tenar sepanjang masa Baywatch (1999-2001), Jason Momoa ditunjuk sebagai Conan
Stephen Lang sebagai Khalar Zym
Rachel Nichols sebagai Tamara
Ron Perlman sebagai Corin
Rose McGowan sebagai Marique

Director:
Pria kelahiran Jerman bernama Marcus Nispel ini terakhir menggarap film remake Friday The 13th (2009).

Comment:
Pertama-tama, Robert E. Howard harus diberikan penghormatan akan idenya menciptakan karakter Conan yang legendaris itu. Tidak peduli berapa banyaknya reboot, spin-off, prekuel, sekuel yang dihasilkan puluhan filmmaker selama beberapa masa, karakter Conan tetaplah karakter Conan ciptaan Howard yang gagah berani dan pantang menyerah. Sosok kepahlawanan yang patut diteladani oleh siapapun juga.
Sayangnya kali ini trio penulis Thomas Dean Donnelly, Joshua Oppenheimer dan Sean Hood seperti kesulitan menyatukan isi kepala mereka bersama-sama dalam menghasilkan skrip yang brilian. Lihat saja bagian pembuka dimana pengenalan Conan kecil yang begitu dangkal, setiap karakter di bagian ini hanya mengucapkan sebaris kalimat dimana adegan membunuh dan bertahan hidup berlalu begitu saja hingga memasuki fase berikutnya.


Lebih dari dua pertiga bagian film yang menceritakan Conan dewasa juga tidak jauh berbeda. Dibekali dengan serentetan adegan aksi berujung pertumpahan darah yang bombastis sekalipun tidak akan ada artinya jika tidak dilengkapi oleh plot cerita dan karakterisasi yang mampu mengikatkan diri dengan penonton. Tak kurang dari 8 orang produser yang bekerjasama pun semakin memperbesar “dosa” mereka dengan membalut film dalam format 3D yang sia-sia belaka!
Sutradara Nispel juga melakukan gaya penceritaan yang miskin dengan intensitas yang turun naik. Terkadang amat menjemukan dengan dialog-dialog klise antar tokohnya yang seakan tidak mengenal jaman, etika dan kebudayaan sekaligus. Semua mengalir begitu saja selayaknya kisah Conan terjadi di masa sekarang ini, kontras sekali dengan tata kostum yang sebetulnya sudah tampil meyakinkan sesuai periodenya itu.


Tokoh yang dimainkan oleh Lang dan McGowan menjadi karakter favorit saya disini dengan kekejian dan kelicikannya. Masih di atas Momoa ataupun Nichols yang justru tidak terlalu berhasil menciptakan keterikatan asmara yang kental di antara keduanya. Namun kekurangan yang terjadi tidak sepenuhnya patut ditimpakan pada mereka mengingat konsistensi pengarahan sang sutradara terhadap aktor-aktrisnya disini wajib dipergunjingkan.
Conan The Barbarian memang sepintas terlihat megah, epik dengan kinerja CGI yang lumayan mengesankan. Namun di balik semuanya, tidak ada motivasi kuat yang dibutuhkan dari filmmaker untuk mendongkrak pijakan film ini dari kelas B yang menempel padanya. Apabila anda tetap penasaran atau memang menyukai genre pahlawan klasik semacam ini, saksikanlah tanpa nalar yang kritis dan tingkat kepedulian yang minimum terhadapi segala minusnya. Bisa jadi versi HBO malah lebih baik dari yang satu ini.

Durasi:
110 menit

U
.S. Box Office:
$20,920,882 till mid Sep 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!